Nama Orang Suku Baduy Yang Unik Dan Penuh Makna

oleh -635 views

BeritaFaktaBanten.com – Nama-nama Sunda seperti Asep dan Ujang saat ini tengah menarik perhatian Profesor Cece Sobarna. Memang, guru besar Jurusan Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran itu menilai nama-nama tersebut “sudah punah” dan sudah ditinggalkan oleh generasi sekarang.

Dugaan Cece adalah salah satu faktor yang terjadi akibat pengaruh pesatnya perkembangan informasi digital. Dulu, nama Asep dan Ujang sering diberikan untuk anak laki-laki, demikian pula nama Eneng dan Euis untuk anak perempuan.

Terkait nama-nama tersebut, Cece mendapat laporan hasil kunjungannya ke suku Baduy di Kabupaten Lebak, Banten. Laporan itu ia tulis dalam artikel berjudul Pesona Nama Baduy Tahun 2020.

Sesuai judulnya, Cece menikmati cara suku Baduy mempertahankan budayanya, termasuk penamaan. Orang Baduy melakukan banyak hal berbeda saat menamai anaknya, sehingga hasilnya sangat sederhana dan mudah diingat, namun tanpa kebarat-baratan.

“Bagi suku Baduy namanya sangat sederhana, hanya untuk membedakan satu orang dengan yang lainnya. Dan tentu saja konvensi penamaan yang familiar. Pasti beda dengan bahasa Sunda pada umumnya,” kata Cece dalam wawancara dengan detikJabar baru-baru ini.

Dalam rangkuman tertulisnya, Cece membagikan langkah-langkah dan penamaan bayi Suku Baduy. Menurut Cece, tidak semuanya mengecualikan sifat filosofis dan mendalam masyarakat Baduy.

Pertama, Cece menjelaskan bahwa suku Baduy menempuh tiga jalur ketika ingin menamai anak. Pertama, melalui mimpi seorang sesepuh yang pernah dimintai tolong untuk penamaan. Jika tidak mendapat pituduh atau petunjuk, para sesepuh akan menyiapkan beberapa nama alternatif untuk anak tersebut.

Kedua, pemberian nama dilakukan dengan menyesuaikan tanggal lahir. Misalnya, jika anak itu lahir pada hari Rabu, itu akan disebut Rebo. Tiga pertimbangan linguistik dibuat dengan mengambil beberapa nama dari orang tua mereka. Anak perempuan mengambil nama belakang ayah mereka, dan anak laki-laki mengambil nama belakang ibu mereka. Biasanya bagian nama diambil dari suku kata pertama.

BACA JUGA  Komitmen Wakil Rakyat Gerindra Se-Banten, Menangkan Prabowo Di Pilpres 2024

Misalnya, kata Cece, untuk anak perempuan bernama Arsunah, Calinah, Sani berkerabat dengan suku pertama yang dinamai ayahnya, yakni Ardi, Caiwin, Sadi. Mirip dengan nama anak laki-laki, yakni Caikin, Sarda hingga Taki, diambil dari nama suku pertama ibunda Caiah, Sarti dari Taci.

“Pada dasarnya harus ada sangkut pautnya meski hanya surat,” ujarnya. Selain itu, nama anak pertama suku Baduy akan sering menentukan nama orang tuanya. Sering menambahkan nama ayah dan ambu sebelum nama anak, seperti Ayah Sani atau Ambu Sani.

Julukan baru ini akan terus digunakan dalam kehidupan sehari-hari orang tua sang anak. Bahkan, ada orang tua yang lupa nama asli anaknya karena nama panggilan baru anaknya.

Meski terdengar sederhana, Cece mengungkapkan bahwa nama suku Baduy mengandung konotasi filosofis. Dikatakannya, jika anak tidak cocok dengan nama depannya, maka akan dilakukan ritual untuk mengganti nama anak tersebut.

“Kadang nama yang diberikan tidak cocok. Misalnya anak banyak menangis, kesakitan, sakit, ada beberapa ritual pemberian nama anak yang cocok untuk anak,” kata Cece.

Untuk mengatasi hal tersebut, suku Baduy sering bertindak seolah-olah anak tersebut dibuang ke paraji atau bidan adat untuk diambil atau digendong. Maka tak heran, kata Cece, di Baduy banyak orang bernama Pulung. Menurut Cece, yang menyangkut pengambilan nama tertentu untuk anak dari orang tuanya dan dicocokkan dengan jenis kelamin anak, hal itu tidak lepas dari unsur kepercayaan. Penggunaan suku kata pertama nama ayah diteruskan ke anak perempuan dan sebaliknya dari ibu ke anak laki-laki. “Pada prinsipnya mengandung nilai filosofis bahwa ayah harus melindungi anak perempuannya dan anak laki-laki harus melindungi ibunya,” pungkasnya. (Red)

BACA JUGA  Sejarah Singkat Provinsi Banten